Jumat, 15 Januari 2016

usaha penangkapan kerang pokea



Hasil gambar untuk kerang pokea di sungai pohara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang
Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi, dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya.
Di Indonesia, menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.[1] Dengan demikian, perikanan dapat dianggap merupakan usaha agribisnis.
Usaha perikanan adalah semua usaha perorangan atau badan hukum untuk menangkap atau membudidayakan (usaha penetasan, pembibitan, pembesaran) ikan, termasuk kegiatan menyimpan, mendinginkan, pengeringan, atau mengawetkan ikan dengan tujuan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha (komersial/bisnis)
Wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti.

Sulawesi Tenggara mempunyai potensi keanekaragaman hayati perairan yang cukup tinggi. Salah satu diantaranya adalah bivalvia air tawar. Bivalvia ini memiliki arti penting pada ekologi dan ekonomi. Bivalvia dapat menjaga keseimbangan ekosistem di lingkungannya, yaitu : (1) sebagai konsumen yang memfilter organisme-organisme berukuran lebih kecil; (2) komponen tersuspensi dalam air (filter feeder); dan (3) sebagai bioindikator. Dari sisi ekonomi, organisme ini merupakan sumber protein hewani yang murah bagi  masyarakat. Selain itu cangkangnya dapat dibuat sebagai perhiasan rumah tangga dan bahan bangunan (Bahtiar 2005).

1.2.            Tujuan
Tujuan dari penulisan laporan ini yaitu cara menganalisis suatu usaha perikanan yang terdapat di Sulawesi Tenggara khususnya usaha  penangkapan kerang pokea (Bivalvia) di Desa Pohara, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.      Keberadaan Kerang Pokea Di Sulawesi Tenggara
Secara umum, bivalvia dapat kita jumpai hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia yang sebagian besar hidup dengan cara membenamkan diri dalam pasir, lumpur dan karang batu bahkan ada yang melekatkan diri pada substratnya. Salah satu daerah yang mempunyai potensi sumber daya hayati khususnya bivalvia terdapat di perairan Sungai Pohara.  Sungai dengan tepian sedikit landai sampai curam ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari dalam berbagai peruntukan diantaranya adalah sumber air minum, mandi-cuci-kakus (MCK), tempat produksi bahan makan tradisional (sagu) bahkan sebagai daerah penangkapan/pengambilan bivalvia. Bivalvia yang hidup diperairan ini berasal dari famili Corbicula dengan jenis Batissa violacea var celebensis von Marten, 1897. Masyarakat setempat mengenalnya dengan sebutan “pokea”. Penangkapan kerang pokea yang dilakukan masyarakat setempat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian yang hasilnya akan dijual ke tempat penampung.
Pada sisi lain, informasi yang berhubungan dengan kepadatan dan distribusi kerang pokea di perairan Sulawesi Tenggara masih terbatas jumlah dan aspeknya, yaitu menyangkut kepadatan dan distribusi kerang pokea (B. violacea celebensis) di Sungai Pohara Desa Andadowi Kecamatan Bondoala (Renel, 2001), dan di perairan Sungai Pohara Desa Laosu Kecamatan Bondoala (Saharuddin, 2003), distribusi dan kelimpahan kerang pokea (B. violacea celebensis) pada bagian Sungai Pohara di Desa Kapoiala Kecamatan Bondoala Kabupaten Konawe, (Balda ,2007),  studi kebiasaan makanan kerang pokea (B. violacea celebensis) di Sungai Pohara Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe (Nurfatmah, 2006),  karakteristik kualitas air terhadap kepadatan kerang pokea (B. violacea celebensis) di daerah Sungai Pohara Desa Pohara Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe (Riama, 2006), studi pertumbuhan dan tingkat eksploitasi populasi kerang pokea (B. violacea celebensis) di Sungai Pohara (Hasmawaty, 2007), kajian populasi pokea (B. violacea celebensis) di Sungai Pohara Kendari, (Nafsal, 2007) distribusi dan kepadatan kerang pokea (B. violacea celebensis) di Sungai Pohara.

2.2.       Klasifikasi Dan Morfologi Kerang Pokea (B. Violacea Celebensis)
Klasifikasi kerang  B.violacea celebensis menurut (James dan Covich, 1991) adalah sebagai berikut:
Kingdom                     :   Animalia
Sub kingdom               :   Avertebrata
                             Phylum                      :  Mollusca
                                     Class                            :  Bivalvia
                                             Family                          :  Corbiculidae
                                                     Genus                           :  Batissa
Species                             :  B. violacea var      celebensis
Secara morfologi hewan kerang pokea jantan sukar dibedakan dengan kerang pokea betina, karena bentuknya yang sama bila dilihat dari penampakannya. Alat kelamin hewan ini terbungkus oleh mantel dan cangkang yang sangat kuat dan keras (Nyuheri, 1993).

2.3.      Parameter Lingkungan
Parameter yang diduga cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan kerang pokea adalah suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus dan substrat.
1.                  Suhu
Menurut Rangan (1996), suhu mempunyai pengaruh yang besar terhadap ekosistem sungai. Keberadaan jenis dan keberadaan seluruh kehidupan komunitas pantai cenderung bervariasi dengan berubahnya suhu. Suhu dapat merupakan faktor pembatas bagi beberapa fungsi biologis hewan air seperti migrasi, pemijahan, efisiensi makanan, kecepatan renang, perkembangan  embrio dan kecepatan metabolisme. Pengaruh suhu ini dapat  terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kehabisan air ini terjadi karena meningkatnya suhu di perairan tersebut (Nybakken, 1992).
Asikin (1981), menyatakan bahwa kenaikan suhu secara tiba-tiba akan mempengaruhi sifat fisika dan kimia perairan antara lain: densitas, pH dan kandungan organisme. Kondisi perairan yang baik bagi kehidupan kerang yaitu suhu berkisar antara 27-35°C akan tetapi dapat lebih tinggi dengan berkurangnya kedalaman air.

2.                  Kecepatan Arus       
Menurut Efriyeldi (1997), kecepatan arus selain yang disebabkan oleh angin ngin juga dapat terjadi karena pasang surut, jika arus kuat dapat menyebabkan erosi sedimen dan membawa jauh serta sebaliknya arus yang lemah dapat terjadi dengan tidak mengganggu dasar perairan.  Nybakken (1992) menyatakan bahwa jika arus lambat substrat yang banyak ditemui adalah lumpur dan bila arus kuat, maka akan banyak ditemui substrat berpasir.
Arus berpengaruh terhadap ketersediaan makanan disuatu perairan karena keberadaan arus dapat menyebabkan terjadinya proses transfer makanan. Adaptasi oleh organisme bivalvia terhadap arus yang kuat dilakukan dengan cara menggali substrat sampai mencapai kedalaman tertentu yang tidak dapat lagi dipengaruhi oleh arus yang ada diatasnya.
3.                  Kecerahan 
Kecerahan merupakan suatu nilai yang bersifat antagonis terhadap kekeruhan Odum (1994). Kekeruhan yang tinggi akan menurunkan kecerahan perairan serta mengurangi penetrasi cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan sehingga akan membatasi proses fotosintesis dan produktivitas perairan (Wardoyo, 1981).
Kecerahan ini dipengaruhi oleh bahan tersuspensi yang terdapat dalam air baik organik maupun anorganik serta besarnya intensitas cahaya matahari (Wardana, 1995).

4.                  Kedalaman
Kedalaman sungai mempengaruhi distribusi bivalvia air tawar. Kebanyakan dari spesies Unionidol lebih menyukai  habitat dangkal yang umumnya kurang dari 4-6 m, meskipun beberapa spesies yang dapat ditemukan pada bagian yang lebih  dalam jika organisme tersebut masih mendapatkan suplai oksigen yang cukup (James dan Covich, 1991).
Curah hujan yang tinggi sebagai salah satu faktor yang dapat menimbulkan kenaikan arus air di sungai. Setiap daerah di dalam suatu aliran sungai akan memberikan tanggapan yang berbeda-beda terhadap curah hujan dan dengan demikian pelepasan aliran-aliran air berubah-ubah sepanjang aliran sungai pada titik tersebut (Koesoebiono, 1981).

5.                  Substrat 
Lumpur sebagian besar merupakan partikel dan zat organik serta untuk berbagi jenis kerang (Bivalvia) merupakan tempat hidup yang baik.  Bivalvia ini ditemukan pada permukaan atau membenamkan diri di dalam substrat (Sastrapradja ; Djajasasmita, 1997), hanya terdistribusi pada segmen muara sejauh lapisan pasang air laut dan ditemukan pada semua tekstur substrat perairan dari krikil sampai dengan liat ( Bahtiar, 2007).


BAB III
PEMBAHASAN
3.1.      Biaya Tetap
Berdasarkan hasil wawancara pada nelayan penangkap Kerang Pokea di Desa Pohara, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe, yaitu :
Table 1. Biaya Tetap
No.
Keterangan
Jumlah
Harga (Rp)
1.
Compressor
1 unit
2.380.000
2.
Perahu
1 unit
1.000.000
3.
Selang compressor
50 meter
550.000
4.
Kaca mata air
2 buah
490.000
5.
Dakor (Penutup Mulut)
2 buah
700.000
6.
Jangkar
1 unit
110.000
7.
Mesin penggerak
1 unit
2.500.000
Jumlah

7.730.000

Untuk mengetahui biaya tetap dari penjualan pokea di Desa Pohara maka di hitung biaya penyusutannya terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut :
Ø    Compressor
o        Menghitung penyusutan compressor dalam waktu tahun :
2.380.000 / 10 Tahun = 238.000
o        Menghitung penyusutan compressor dalam waktu bulan :
238.000 / 12 Bulan = 19.800
Compressor yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 10 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 19.800

Ø    Perahu
o        Menghitung penyusutan perahu dalam waktu tahun :
1.000.000 / 4 Tahun = 250000
o        Menghitung penyusutan perahu dalam waktu bulan :
250000 / 12 Bulan = 20.800
Perahu yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 4 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 20.800  

Ø    Selang compressor
o        Menghitung penyusutan selang compressor dalam waktu tahun :
550.000 / 2 Tahun = 2.75000
o        Menghitung penyusutan selang compressor dalam waktu bulann :
275000 / 12 = 22.900 Rupiah
Selang compressor yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 2 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 22.900

Ø    Kaca mata air
o        Menghitung penyusutan kaca mata air dalam waktu tahun :
49.000/ 1 Tahun = 49000
o        Menghitung penyusutan kaca mata air dalam waktu bulann :
49000 / 12 bulan = 4083 Rupiah
Kaca mata air yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 1 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp.4.083
Ø    Dakor
o        Menghitung penyusutan Dakor dalam waktu tahun :
700.000 / 1 tahun = 700.000
o        Menghitung penyusutan Dakor dalam waktu bulan :
700.000 / 12 bulan = 58.300
Dakor yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 1 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 58.300
Ø    Jangkar
o        Menghitung penyusutan jangkar dalam waktu tahun :
110.000/ 10 Tahun = 11.000
o        Menghitung penyusutan jangkar dalam waktu bulan :
11.000 / 12 Bulan = 916
Jangkar  yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 10 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 916
Ø    Mesin penggerak
o        Menghitung penyusutan mesin penggerak dalam waktu tahun :
2.500.000 / 2 Tahun = 1.250000
o        Menghitung penyusutan mesin penggerak dalam waktu bulan :
1.250000 / 12 Bulan = 104.166
Mesin penggerak  yang di pakai oleh nelayan pokea Desa Pohara bisa di pakai dalam jangka 2 tahun dengan biaya penyusutan sebesar Rp. 104.166

Untuk menentukan biaya tetap nelayan pokea di Desa Pohara setelah biaya penyusutan di hitung, maka biaya tetap adalah sebgai berikut :
19.800 + 20.800 + 22.900 + 4.083 +58.300 + 916 + 104.166 = 230.965
Jadi biaya tetap nelayan pokea adalah Rp. 230.965 / Bulan
3.2.      Biaya Variabel
Table 2. Biaya Variabel
No.
Keterangan
Kebutuhan
Harga (Rp)
1.
Konsumsi
1 orang (1 x 6 jam)
50.000
2.
Karung
6 buah
18.000
3.
Oli mesin (Compressor)
600 ML
28.000
4.
Bensin (Compressor dan Mesin penggerak perahu)
5 liter
50.000
Jumlah

146.000

3.3.      Biaya total
Mubyarto(1989) bahwa pengertian biaya tetap danbiaya variabel itu hanya pengertian jangka  pendek, sebab dalam jangka panjang biaya tetap dapat menjadi biaya variabel.
Biaya Total = Biaya Variabel + Biaya Tetap
Biaya Total = 146.000 + 230.965 = 376.965
Jadi total biaya nelayan pokea di Desa Pohara Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe adalah Rp. 376.965

3.4.      Penerimaan
Output atau hasil pokea yang di dapat nelayan pokea yaitu 1 gantang x harga 1 gantang.
Out put = 1 gantang pokea x harga 1 gantang pokea
Out put = 17 gantang x 30 hari = 510
Out put = 510 gantang x 25.000 = 12.750000
Jadi penerimaan nelayan pokea selama 1 bulan yaitu Rp. 12.750000

3.5.      Pendapatan
Pendapatan nelayan pokea Desa Pohara Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe yaitu sebagai berikut :
Laba usaha (In Come) = Out put – Input
In come = 12.750000 – 376.965 = 12.373035
Jadi pendapatan nelayan pokea Desa Pohara Kecmatan Sampara Kabupaten Konawe adalah Rp. 12.373035
3.6.      Benafid Cost Ratio
Benafid Cost Ratio (BCR) adalah perbandingan antara total pendapatan selama masa tertentu (besarnya manfaat) dengan capital out lay. Besarnya nilai BCR akan menunjukan tingkat ke untungan yang di capai. Apabila B/C Ratio lebih dari 1,0 satu), maka usaha layak atau patut di jalankan.
·                     B/C Ratio = TR / TC
B/C Ratio = 12.750000 / 376.965 = 33, 8
Karena B/C Ratio sebesar 33,8 maka usaha penangkapan kerang pokea patut untuk di jalankan.
BAB IV
KESIMPULAN
4.1.      Kesimpulan
Berdasarkan dari analisis kerang pokea di Desa Pohara Kecamatan Sampara Kabupaten Konawe Utara adalah sebagai berikut :
1.                  Hasil dari analisis di atas di dapatkan biaya tetap dan biaya variable penangkapan kerang pokea di Desa Pohara yaitu Rp. 230.965 / Bulan dan Rp. 146.000.
2.                  Hasil perhitungan antara biaya tetap dan biaya variable di dapatkan biaya total sebesar Rp. 376.965
3.                  Untuk penerimaan dan pendapatan nelayan pokea Desa Pohara yaitu sebesar Rp. 12.750000 dan Rp.12.373035
4.                  Hasil perhitungan kelayakan usaha Benafid Cost Ratio adalah jika lebih dari 1,0 maka usaha itu layak untk di jalankan sedangkan pada usaha penangkapan kerang pokea yaitu senilai 33.8 jadi usaha ini patut untuk di jalankan.






DAFTAR PUSTAKA
Asikin, T. 1981.  Kerang Hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.

Bahtiar. 2005. Kajian Populasi Pokea (B. violacea celebensis, Martens 1897) di sungai Pohara Kendari Sulawesi Tenggara. Tesis. IPB. Bogor.

Bahtiar. 2007. Kepadatan dan distribusi pokea (B. violacea celebensis Martens, 1879) pada substrat yang berbeda di Sungai Pohara Sulawesi Tenggara. Aqua Hayati (2012) 8 (2):115-123 

Efriyeldi.  1997. Struktur Komunitas Makrozoobentos dan Kaitanya dengan Karakteristik Sedimen di Muara Sungai Bantas Tengah Riau.  Skripsi.  Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.  IPB.  Bogor.

James, H.T.  and A.P.  Covich.  1991.  Ecology and Classification of Northern American Freswather Invertebrates.  Academic Press.  Inc.  America.

Nybakken, J.W. 1992.  Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.  (Diterjemahkan oleh Eidman, M.  Koesbiono, D.G. Bengen, M.  Hutomo, dan S. Sukardjo).  Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Nyuheri, S.  1993. Studi Kelimpahan Anadonta sp. Berdasarkan Stratifikasi Vertikal Pada Sungai Pohara di kelurahan Sampara Kecamatan Bondoala.  Skripsi.  Jurusan MIPA.  FKIP Unhalu.  Kendari.

Renel, F.  2001.  Studi Kepadatan dan Distribusi Kerang Pokea (Corbicula spp) pada Sungai  Pohara Desa Andadowi Kecamatan Bondoala.  Skripsi.  Jurusan Perikanan.  Fakultas Pertanian.  Unhalu. Kendari.

Saharuddin.  2003.  Studi Kepadatan Kerang Pokea (Anadonta sp.).  Pada Perairan Sungai Pohara Desa Laosu Kecamatan Bondoala.  Skripsi.  Jurusan Perikanan.  Fakultas Pertanian.  Unhalu.  Kendari.

Wardana, W.  1995.  Taksonomi Avertebrata Pengantar Laboratorium. UI Press.  Jakata.

Wardoyo, S.T.H.  1981.  Pengelolaan Kualitas Air.  Fakultas Perikanan.  Proyek Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi.  IPB.  Bogor.